Kenali Segala Hal Tentang Demensia Sebelum Terlambat

Kenali Segala Hal Tentang Demensia Sebelum Terlambat

Apakah anda mengenal demensia? Di zaman ini, masih banyak penduduk Indonesia yang tidak mengenal demensia dengan baik. Padahal demensia telah menjangkiti sekitar 47,5 juta jiwa dari total populasi dunia, termasuk jutaan jiwa rakyat Indonesia.

Sebenarnya demensia bukanlah merupakan suatu penyakit, lho. Namun merupakan kumpulan dari gejala-gejala penurunan kemampuan ingatan dan berpikir yang berdampak akhir pada menurunnya kemampuan beraktivitas sehari-hari.
Salah satu tipe demensia yang paling sering ditemukan adalah Alzheimer, yang menjangkiti 60-80% dari total kasus demensia di dunia.

Penyebab Demensia

Secara umum penyebab demensia adalah kerusakan sel-sel otak dan penyakit-penyakit neurodegeneratif, atau penyakit yang dapat membunuh sel-sel otak secara berkala. Penyakit-penyakit tersebut antara lain down syndrome, posterior cortical atrophy, hydrocepaus, stroke, infeksi HIV, penyakit prion, dan frontotemporal demensia. Selain itu, demensia juga bisa disebabkan oleh tumor otak dan luka pada kepala.

Gejala-Gejala Demensia

Demensia dapa t menyebabkan penurunan daya ingat, daya pikir, dan daya kerja otak secara umum. Penyakit ini biasanya menjangkiti para lansia di atas umur 65 tahun. Meskipun daya ingat cenderung menurun pada lansia, demensia bukanlah dan sangat berbeda dengan kondisi pikun. Yuk simak gejala-gejala demensia di bawah ini.

1. Kesulitan melakukan kegiatan sehari-hari

Gejala ini umumnya dimulai dengan kesulitan melakukan tugas kompleks terlebih dahulu, seperti membuat laporan akuntansi bulanan atau mengedit foto. Lambat laun kondisi akan memburuk dan penderita akan kesulitan melakukan tugas dasar, seperti makan, mandi, dan mencuci.

3. Ketidakmampuan berpikir abstrak

Seiring berkurangnya daya pikir penderita demensia, mereka juga cenderung sulit menerima dan memahami konsep-konsep abstrak, meskipun konsep tersebut sudah diketahuinya sejak lama. Konsep tersebut seperti memahami manfaat menabung.

4. Gangguan ingatan jangka pendek

Penderita demensia cenderung melupakan kegiatan yang baru saja mereka lakukan. Namum sebaliknya, kejadian bertahun-tahun lalu masih dapat diingat dengan baik. Jadi, jangan heran apabila anda menemukan pasien demensia yang tidak mengingat apa yang mereka makan untuk sarapan.

5. Kesulitan dalam komunikasi

Demensia dapat membuat penderitanya kesulitan memilih kata yang tepat atau menyusun kalimat yang benar. Sehingga mereka sulit berkomunikasi dengan orang lain seperti biasanya.

6. Masalah orientasi

Bukan hanya kemampuan berpikir, namun kemampuan navigasi penderita demensia juga terpengaruh. Dalam banyak kasus, para penderita demensia akan lupa melupakan jalan pulang ke rumah meskipun mereka sudah melewati jalan yang sama selama bertahun-tahun.

7. Menurunnya inisiatif

Sepintas gejala ini mungkin terlihat sebagai rasa malas. Namun sebenarnya, turunnya inisiatif untuk melakukan sesuatu merupakan salah satu tanda-tanda demensia.

8. Kesulitan memahami hal baru

Telah disebutkan bahwa penderita demensia akan kesulitan melakukan tugas dasar dan memahami konsep abstrak. Dengan demikian penderita juga akan semakin kesulitan dalam beradaptasi, belajar, dan menyerap hal-hal baru.

Tipe-Tipe Demensia

Salah satu tipe demesia yang paling dikenal adalah Alzheimer. Namun selain Alzheimer, ternyata ada 7 tipe demensia lain yang sama bahayanya, lho.

  1. Alzheimer
  2. Creulzfeldt-Jakob
  3. Lewy body dementia
  4. Demensia frontotemporal
  5. Demensia campuran
  6. Parkinson
  7. Demensia vaskuler
  8. Korsakoff syndrome
  9. Pengobatan Demensia

Apabila orang terdekat anda mengalami penurunan daya ingat di waktu senjanya, hindari berkesimpulan bahwa ia menderita demensia terlalu cepat. Lain halnya dengan demensia, pikun merupakan proses penuaan yang alami terjadi pada manusia. Dan kondisi ini sama sekali tidak berbahaya.

Namun apabila anda menemukan beberapa gejala demensi pada orang tersebut, datanglah pada ahli neurologi/dokter saraf untuk berkonsultasi. Biasanya dokter akan menjalankan beberapa tes untuk mendeteksi potensi demensia pada pasien. Tes tersebut meliputi:

  1. Tes mental dan ingatan lengkap
  2. Uji neurologi
  3. Tes darah
  4. Scan otak

Meskipun demensia umumnya menyerang lansia di atas usia 65 tahun, juga ada kemungkinan demensia menyerang seseorang yang lebih muda. Diagnosis awal dapat sangat membantu memperlambat efek demensia pada pasien dengan melakukan terapi dan pengobatan yang tepat sejak dini.

Selain itu menjaga otak tetap terasah dapat mencegah terjadinya demensia, lho. Anda dapat mulai menggiati permain otak seperti catur, melakukan olahraga teratur, dan menerapkan pola hidup sehat untuk menjauhkan demensia dari hidup anda.

Kesehatan