Pengaruh Gadget dengan Perkembangan Anak

Pengaruh Gadget dengan Perkembangan Anak

Dunia dalam genggamanmu. Yah, kalimat itu sering kita dengar dalam kehidupan sosial, baik secara pribadi, dari para ahli, bahkan ada dalam lirik lagu. Segala sesuatu yang kita genggam pasti meninggalkan perubahan.

Kalau anda menggengam kertas, maka kertas itu akan menjadi lecek. Sebuah adonan tepung, jika yang menggengam tukang kue, maka akan menjadi kue yang nikmat. Begitupun ketika anda menggengam arang, maka ia akan meninggalkan bekas hitam untuk anda.

Seperti itulah dengan gadget atau sebagian kita sering menyebutnya gawai. Sebuah teknologi yang perkembangannya sangatlah pesat, diluar logika saya dan orang pada umumnya.

Dahulu orang membeli Handphone umumnya karena sudah rusak atau terlalu lama. Tapi berbeda dengan sekarang, orang membelinya salah satu alasannya karena gaya hidup. Orang bisa saja membelinya satu tahun sekali, dua kali, dan semaunnya mereka. Walaupun dilain hal karena masalah pekerjaan, tuntutan profesi dan seterusnya.

Lalu seberapa seriuskah pengaruh gadget tersebut pada anak. Anak disini saya mengacu pada Undang Undang Perlindungan Anak, yaitu mereka yang usianya belum mencapai 18 tahun.

Tapi saya lebih memfokuskan anak usia SD dan SMP. Karena ketika pondasi itu sudah berdiri dengan kokoh, maka anak usia SMA proses pengawasanya menjadi lebih ringan, bahkan sebagian dari mereka sudah matang atau mengerti dengan sendirinya.

Lalu kembali ke masalah pengaruh gawai terhadap perkembanga anak. Sebelum berbicara positif dan negatifnya, maka saya akan memberikan contoh real yang saya mengerti dan menyaksikannya sendiri.

Dulu ketika saya melakukan tes psikologi di sebuah biro karena urusan kerjaan, saya bareng (bersama) dengan wanita paruh baya yang membawa anak kecil usia sekitar kelas satu SD. Lalu ia menyapa saya, dan sebaliknya.

Dari obrolan kami akhirnya saya tahu alasan wanita paruh baya itu membawa cucunya di biro psikologi tersebut. Sejak kecil cucu saya ini selalu di tinggal oleh orang tuannya, Ayah dan Ibunya sibuk bekerja, sementara saya harus mengurusnya dan juga urusan rumah.

Orang tuanya memiliki kebiasaan jika anaknya rewel, maka Hp menjadi solusi, seperti anak kecil pada umumnya. Melihat vidio kartun, binatang, youtobe, dan sebagainya. Sayapun mengikuti kebiasaan itu, terlebih karena saya harus mengurus rumah, dari mulai urusan dapur, pakaian, kebersihan, dan sebagainya.

Alhasil anak tersebut tumbuh dengan kemampuan wicara yang tidak semestinya sampai menginjak usia kelas satu SD. Dari hal tersebut orang tuanya membawa ke terapis, yaitu biro psikologi tersebut.

Singkat cerita kesimpulannya masalah tersebut di sebabkan karena anak tersebut tidak pernah / sangat kurang bersosialisasi secara verbal dengan orang tua, apalagi lingkungan, karena memang di lingkungan tersebut tidak ada anak seusianya.

Dari cerita neneknya tersebut, setiap seminggu 3 kali akhirnya harus di terapi, dengan biaya sekali terapi kurang lebih 150ribu rupiah.

Di lain contoh saya memiliki tetangga yang anaknya sampai tidak lulus SMP karena kecanduan gawai, terutama games. Ada juga mahasiswa yang sudah semester 3 yang harus keluar, tepatnya tidak di ijinkan mengikuti ujian karena absensinya jauh dari standart yang di tetapkan kampus tersebut.

Alasan sederhananya adalah ia tidak kuat dengan jurusan yang dipilihnya. Tapi faktanya adalah ia seorang yang kecanduan games.

Jadi gadget itu seperti sebuah pisau, yang menjadi berbahaya ketika yang menggunakan belum cukup umur, menjadi berbahaya ketika yang menggunakan tidak memiliki pengetahuan atau akhlak yang baik.

Lalu siapa yang harus bertanggung jawab dengan hal ini. Ya, tentu semuanya. Ada orang tua, ada lingkungan, ada para pendidik, ada pemerintah. Orang tua berada di garis paling depan untuk mendidik anak tentang sisi baik atau buruknya gawai.

Lingkungan juga jadi bagian pengawas, dalam kehidupan sosialnya. Sekolah membuat aturan yang tegas dan pengetahuan tentang baik buruknya gadget. Pemerintah membuat regulasi hukum tentang penggunaan gadget, baik untuk konten kriminal, hoaxs, sara dan sebagainya.

Harus membuat regulasi batasan usia yang diperbolehkan menggunakan gawai. Pemerintah juga harus membuat regulasi untuk para pengusaha, agar mereka tidak selalu menjejali gadget dengan keluaran terbaru. Artinya para produsen tidak seenaknya sendiri mengeluarkan atau memasarkan produknya setiap waktu atau setiap bulan.

Hubungan antara gadget ini bukan masalah sederhana, ini sangat berkaitan dengan psikis manusia. Dari mulai budi pekerti, sopan santun, disiplin, bahkan kriminal. Walaupun kita tidak menafikan bahwa banyak juga sisi positifnya.

Kita bisa melihat anak lebih akrab dengan gawainya dari pada orang tua, anak lebih sering mengeluh dengan gawainya dari pada dengan keluarga. Lunturnya sopan santun, lunturnya hubungan sosial dengan keluarga dan lingkungan, dan seterusnya.

Jadi mulai saat ini ayo kita sama sama mengawasi anak kita dari pengaruh buruk gadget, jangan sebaliknya. Malah membiarkan anak kita bermain gadget sesuka hatinya, apalagi untuk mereka yang belum cukup umur.

Anak SD tidak perlu dikasih Hp, bahkan menurut saya anak SMP pun tidak perlu di kasih Hp. Mereka bisa menggunakan fasilitas tersebut milik orang tuanya. Dan pasti orang tua, juga jangan sampai kecanduan gawai, karena tidak sedikit orang tua yang juga kecanduan gawai.

Wanita biasanya untuk belanja online, sementara laki laki untuk bermain games. Anda sebagai orang tua bisa saja concern supaya anak tidak terjebak minuman keras, pergaulan bebas, dan seterusnya. Tapi sadarlah, sisi lain gawai juga bisa jadi lebih buruk dari hal tersebut.

Lifestyle